Selasa, 17 Desember 2013

untitle.

Seorang teman pernah bertanya tentang riwayat pergaulanku. Riwayat pertemananku. Kadang malas untuk menjawab karena teman ini memang memiliki nilai kuriositi yang sangat tinggi. Baru sampai rumah aku terpikir untuk menjawab secara intelek. Hahahaha. Semoga dia baca.
Dulu, saat masih esde atau masih kecil.. kita selalu haal dengan kalimat, “nanti kalo berteman, jangan suka pilih-pilih.” Dan biasanya kalimat tersebut dilontarkan oleh guru atau orang tua kita. Tapi, setelah aku menelan asam garam pendidikan selama hampir 15tahun lamanya ini, aku baru sangat menyadari bahwa kalimat seperti itu memang benar. Sangat benar. Tetapi hanya berlaku sampai 12tahun usia pendidikan. Itu artinya?... Ya.
Teman, kita jangan pernah menutup mata. Dunia perkuliahan itu kejam. Ya, sambil-sambil belajar buat menghadapi dunia yang sebenernya, sih. Mungkin, peribahasa yang tepat untuk pertemanan di dunia perkuliahan adalah : bertemanlah dengan pedagang minyak wangi, agar kalian tertular wanginya. Bukan, bukan berarti aku mau dan sangat ahli memilih-milih teman.
Aku diciptakan sebagai seorang wanita. Banyak sekali pikiran yang berkecamuk di pikiranku di malam hari menjelang saat-saat tidur. Terkadang hal seperti ini pun, aku tidak menyangka.. bakal  menjadi bahan pertanyaan yang dilontarkan kepadaku. Tetapi, ingat ya teman. Aku selalu berusaha untuk tidak menyesal telah melalui semua ini. Aku anggap saja ujian. Ujian bahwa tidak semua orang di atas panggung berlaku sebagai protagonist. Bukankah pada setiap film atau sinetron selalu ada peran antagonisnya?
Aku selalu berpikir, mungkin jika aku seorang penonton dan aku menonton sebah film. Saat pemeran utamanya keluar, aku akan berpikir dia seorang yang baik. Aku akan menjadi penggemarnya sepanjag film berlangsung. Sampai ternyata ada suatu peristiwa dan muncullah hero yang asli. Yang sebenernya tak ingin kulihat dia sebagai hero. Tapi apa? Aku harus menerima kan? Bukannya Sutradara telah mengatur semuanya? Dan aku sebagai penonton harus menerima dan mengambil sesuatu yang positifnya saja?

Teman, usiaku sekarang menginjak 21. Dan insyaAllah aku sudah diberi kemampuan untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang benar. Beda, lho. Ah, teman. Semoga saja kau tak akan pernah mempermasalahkan masalahku. Semoga cukup. Hanya aku dan Dia yang tau.

Selasa, 26 November 2013

Kinara : Aku Bahagia Dengan Caraku Sendiri

Pagi itu Adit terburu-buru. Tidak seperti biasanya. Hari ini ia pun lupa mencium kening istrinya, Hana. Meski begitu, Hana tak pernah sedikit pun kesal dengan tingkah suaminya hari itu. Dia menyibukkan diri dengan perlengkapan sekolah Rizky, anak mereka satu-satunya yang kini duduk di kelas 5 SD. Selain itu masih banyak kotak-kotak barang yang belum dibereskan. Maklum, keluarga ini baru saja pindah ke Jakarta.
            Hana paham benar dengan sikap Adit hari itu. Ia tak pernah sedikit pun marah atau kesal. Karena ia tau pasti alasan Adit bersikap demikian. Adit hanya butuh waktu untuk sendiri. Untuk lebih mengerti, terkadang hidup tak sesuai dengan rencana. Hana tak pernah menyesal menikah dengan Adit, karena sejauh iini yang Hana tau adalah bahwa Adit selalu berusaha menyenangkan dirinya sebagai istri dan anak mereka Rizky. Adit tak pernah sedikitpun melakukan tindakan-tindakan aneh diluar nalarnya sebagai orang yang terdekat dengan Adit.
Adit juga adalah imam yang baik. Bagi Hana, Adit adalah seorang pemimpin keluarga yang bertanggung jawab atas dia dan anaknya. Adit cukup respect dengan menyekolahkan Rizky di sekolah full day dengan kelas agama yang lebih dari sekolah biasanya. Pun, ketika mereka pindah ke Jakarta.. Adit turut selektif memasukkan Rizky di sekolah yang menjadi pilihannya.
            Di kantor pun Adit adalah seorang manajer keuangan yang menggenggam kepercayaan dari banyak pihak. Ia tak pernah ingkar. Dan selalu berperilaku sopan, untuk itulah Hana mencintai Adit sepenuh hati. sekali lagi, Hana tak pernah sedikitpun meminta Adit bercerita banyak tentang masalah yang dihadapinya di kantor maupun di lingkungan polo, olahraga yang digemari Adit baru-baru ini –jika Adit yang tidak bercerita sendiri.
            Hana mengantar Adit sampai didepan pintu mobilnya. Lambaian tangan Hana mengantar Adit yang hanya membalasnya dengan senyuman. Adit yang terlihat kalut akhirnya keluar lagi dari mobilnya. Menghampiri Hana dan mengecup kening istrinya itu.
“I love you, Bun.”, ucapnya.
Hana menjawab pelan, dan mungkin tidak terdengar oleh Adit : “Love you too, Ayah.”
            Sepanjang perjalanan ke kantornya, Adit tak sedikitpun melirik jam tangannya. Sudah tak ada waktu lagi, pikirnya. Akhirnya ia pun membelokkan arah setir mobilnya. Ia kini bukan menuju ke arah kantornya. Jalan yang diambilnya menuju Bandung. Ya, Bandung. Tanpa persiapan, dan tanpa pikir panjang.
            Perjalanan selama menuju Bandung hanya ditempuh Adit kurang lebih 2 jam saja. Gerbang Tol Pasteur dan ucapan selamat datang di Bandung menyambut Adit tepat jam setengah sepuluh. Adit tak kuasa menahan rasa yang perlahan membuncah seiring dengan semakin dekat dengan tempat yang ia tuju.
            Adit memasuki pekarangan rumah yang tidak berpagar namun asri itu. Adit keluar dari mobilnya dan berdiri di dekat teras rumah itu. Pintunya terbuka, karpet pun digelar di ruang keluarga sampai ke belakang. Pasti ada orang pikirnya.
“Assalamualaikum..”
Belum ada jawaban.
“Assalamualaikum...”
            Tak berapa lama, seorang ibu paruh baya keluar. Nampaknya ia hendak pergi. Dandanannya necis dan rapi. Ia tersenyum lebar begitu mengetahui Adit yang datang. Namun ia juga sedikit menyembunyikan rasanya. Rasa hambar saat tahu pasti siapa yang hendak Adit temui.
“Ibu..”, pekik Adit
“Nak Adit.. Kinara sudah pergi.”

            Adit terhentak. Badannya lemas. Ia kini sadar sepenuhnya, Kinara adalah sesuatu yang sangat berharga. Bukan hanya bagi dirinya. Tetapi juga bagi anaknya, Rizky. Dan separuh hidupnya. Perasaan Adit kini berkecamuk. Tak mungkin pergi begitu saja. Ia harus kuat. Sampai nanti, saat Rizky mengerti bahwa Kinara adalah bentuk sebuah cinta yang tak akan pernah sirna begitu saja...

Sabtu, 26 Oktober 2013

Tunggu Tanggal Mainnya.

Beberapa kisah yang coming soon masih digodok dalam nebula otak. Semoga hasilnya maksimal, doakan ya.

Jumat, 25 Oktober 2013

Pesan Mama.

Aku dan Mama seringkali menghabiskan waktu berdua. Ini semua karena aku sadar, waktuku banyak terbuang untuk kegiatan lain seperti kuliah dan ngumpul bersama teman. Aku udah kehilangan moment sama Papa, karena Papa dinas di luar kota.. dan ngga mau kehilangan moment sama Mama.
Untuk hari ini, kita pilih Floating Market, Lembang. Aku tanya sama Mama, “Ma, seneng ngga.. akhirnya kita bisa nyampe disini?”
“Senenglah..”, Jawab Mama, singkat.
Fyi, selama di Floating Market aku lihat Mama girang banget. Mama minta aku buat fotoin dia. Di setiap sudut yang kita lewatin. Dari mulai angle ngadep ke danaunya, jembatan kayunya, kolam angsa, pondok-pondokan.. pokoknya dia maintain aku buat ambil gambarnya..
Aku sadar, ngga selamanya aku bisa menghabiskan waktu dengan orang yang kita sayang. Ngga tau, setiap pergi ke suatu tempat.. aku selalu inget kalo kita harus banyak bersyukur. Bersyukur udah dikasih kenikmatan melihat, mendengar, bernafas dll..
Tapi kita juga ngga boleh lupa, kalo ngga selamanya kita ada. Kita nyata. Kita available di dunia ini. Dan jangan sampai, kita mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah swt..
Aku dan Mama menghabiskan waktu sore kita, sembari menunggu kabar Papa yang mau dijemput di stasiun. Tanpa terasa, waktu menunjukkan mataharinya yang mulai turun sedikit demi sedikit. Aku ngga mau maghrib dijalan, karena emang penglihatan saat maghrib buruk banget. Selain itu, aku ngga mau sampe kena macet. Akhirnya kita mutusin buat turun..
Di jalan menuju ke stasiun bandung, aku dan Mama ngobrolin banyak hal. Dari mulai travel, ke Lombok, jodoh sampe ajal. Mama banyak berbicara tentang. Mama selalu ingetin aku untuk tiap selesai sholat berdoa agar aku mendapatkan jodoh yang menyelamtkan aku dan keluargaku (kelak) dunia akhirat. Jodoh yang sudah memiliki pekerjaan dan Mama juga ngga ngeburu-buruin aku buat nikah ternyata hehe.
Sampai saat tertentu, Mama pesan, “Nindy pokoknya sama adeknya kalo nanti sampai Mama Papanya ngga ada, saat dikuburkan jangan ikut pulang sama orang-orang. Bacain dulu kuburnya ayat kursi atau yasin. Itu membantu pas malaikat bertanya.”
Aku sontak, kaget. Tapi kan, Mama emang suka ngingetin aku masalah ginian. Dan ini nikmatku yang menurutku terbesar sepanjang hidupku. Aku punya Mama yang paling ngerti aku, yang selalu ngasih tau hal penting tentang agama, yang ngewanti-wanti aku tentang jodoh, yang selalu ngasih aku support disaat aku terpuruk, yang selalu mau dengerin cerita aku dari mulai cerita yang penting sampe yang absurd sekalipun, yang selalu minta diajarin main instagram sama twitter, yang suka minta anterin beli dvd korea, yang… ah, Mama segalanya buat aku.


I love you, Mama. 

Sebuah Permintaan.

Dulu, saat saya masih SMA.. ada keinginan terbesar Mama yang ingin sekali saya berhasil melakukannya. Menyetir. Ya. Itu cukup sulit untuk saya, karena saya pada waktu itu termasuk anak yang penakut. Jarak rumah saya dan sekolah yang ngga begitu jauh tidak lantas membuat saya tertarik membawa motor ke sekolah.
Pernah suatu ketika, bel sekolah berbunyi pukul 06.45 wib. Tetapi 06.05 wib saya udah sampe di sekolah, lho. Padahal sekolahnya masih sepi banget. Begitu sampe di sekolah, langsung berkabar sama Mama dirumah. Duh, padahal jarak sekolah-rumah itu ngga nyampe 2 kilometer lho.
Mama pengen, saya bisa nyetir mobil. Bagi saya, menyetir bukanlah suatu lifestyle atau sekedar gaya-gayaan. Tapi memang karena butuh. Papa yang dinas di Jakarta, Mama yang masih banyak kebutuhan minta kesana-kemari, jarak kampus yang jauhnya kayak jarak saya sama Didi Riyadi.. jadi alasan yang waktu itu mendorong saya untuk akhirnya kursus menyetir.
Jarak 3 bulan saat SNMPTN saya manfaatkan sebaik mungkin. Seminggu tiga kali les. Dua minggu kemudian langsung dapet mensyen dari Alexandra Asmasoebrata. Ciyus. Kalo ngga salah karena saya masang status tentang pembalap. Wah, karena dapet mensyen dari doi, semakin semangatlah saya les. Begitu selesai les, saya baru tau kalo itu akun fanbasenya. Lemas? Ngga usah ditanya..
Ada satu pesan Mama yang saya ingat sampai sekarang, “Mama cuman pengen Nindy bisa nyetir biar bisa anter Mama kemana-mana. Nggak ngerepotin orang lain..”
Sekarang saya udah masuk fase mending-disetirin-orang. Tapi saya udah janji sama Mama padahal waktu itu saya belom bisa nyetir, “Pokoknya kalo Nindy udah bisa nyetir, Nindy anterin Mama kemana aja..”
Setiap kali males dan mager menyerang, saya berusaha selalu ingat janji saya kepada Mama. 



Senin, 14 Oktober 2013

Jadi Apa?

Pernah tiba-tiba berpikir ngga, tentang masa depan kalian. Kalian bakal jadi apa? 
Kalo saya sih, sering. Sering banget, bahkan!
Dulu waktu masih kecil suka ditanya mau jadi apa--dan of course, ya. Jawabnya seada-adanya. Maksudnya, jawabannya pasti ngga jauh-jauh dari profesi. Atau minimal, jawaban bodoh yang sering saya ucapkan ke orang-orang yang sayapun males ngejawabnya karena emang faktor orang itu yang ngeselin : Saya ngga muluk-muluk, cuman pengen jadi orang berguna.

Jadi apa? Huft. Pertanyaan di dalam nebula otak begitu ingin membuat saya berpikir. Terus-menerus. Saya bakal jadi apa. Randomness, saya pengen bisa lebih sukses daripada orang tua saya saat ini. Bersyukur atas pencapaian sampe hari ini Tentu. Kan ini ngomongin ke depannya, guys..

Kalo ngerasa minder ngga usah ditanya. Artis atau public figure sekaliber Joe Taslim pun pasti pernah minder. Tapi, mama saya sih lebih suka pake minder buat ngehalusin bumbu dapur.
Ntah 3 atau 5 tahun lagi, saya bakal jadi apa.. saya ngga tau. Tapi yang jelas, saya punya rencana. Rencana yang saya tulis dan itu semoga aja cuman Allah swt sama saya aja yang tau apa isinya. Karena di balik doa saya, saya ingin saya masih merintih, saya masih ingin meminta kepada Zat yang bener-bener kuasaNya luas banget, untuk mengijabah doa saya, keinginan saya, rencana saya.

Ntah bakal jadi apa, saya dan teman-teman saya kelak. Tapi yang jelas, saya akan tetawa ketika melihat tulisan ini dan saat saya mengizinkan anak cucu saya membacanya. Mungkin mereka akan menangis atau sebaliknya, ketika membaca tulisan moyangnya yang dulu tak mengira bakal jadi apa..


Orang Hebat.

Menurut kalian--anda, siapa orang yang hebat di dunia ini? (Selain orang tua ya.)
Ayo! Jawab dong. Jangan cuman senyam-senyum aja sambil ngebayangin muka saya (geer edisi model majalah mangle')
Tokoh agama dan sejenna mah pasti atuh, ya.
Yang lain dong. Kemon-kemon-kemon! Tuhkan, malah senyum lebar banget. Aduh, jawab dong. Siapaaaa?!

Kalo saya sih, menurut saya... orang hebat itu definisinya kan beragam ya, teman. Dan (masih) menurut saya, orang hebat itu adalah : orang yang bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan sesuatu yang berguna (baik untuk hidupnya sendiri, apalagi berguna untuk orang lain, jackpot!

Sederhananya, menurut saya orang hebat yang bisa menginspirasi orang lain itu bisa dikatakan hebat soalnya dia bisa sharing experience dia ke orang lain. Yap! Exprience dia yang mungkin itutuh keadaan titik rendahnya dia dalam hidup, titik dimana dia  jatoh, dia bukan apa-apa dan siapa-siapa, keadaan dimana ada sebagian orang yang ngga pengen diinget-ingetin lagi tentang itu. 
TAPI, dia dengan berbesar hati mau sharing sama anda--kalian! Dengan berbesar hati, dia mau ngebagi aib-nya (jika itu aib), tujuannya cuman satu : dia ngga mau anda--kalian, ngerasa sendirian dan harus stuck disana saat ngadepin keadaan itu. Mungkin ada sebagian yang tujuannya lain, komersil. Tapi percaya deh, jadi orang hebat itu ngga mudah. Ngga segampang nitip absen pas lagi males-malesnya masuk, ngga segampang minta uang ke orang tua. Karena bagaimanapun, sekecil atau sebesar apapun keadaan yang dia alamin (dan dia udah bisa ngelewatin itu), dia cuman pengen ngeyakinin anda--kalian, kalo masih ada langit di atas langit. Masih ada orang lain yang udah ngelewatin keadaan yang kalian alamin sekarang.
Jadi, pesan saya.. hargain orang lain--siapapun dia, yang udah mau bersedia sharing pengalaman idupnya sama kalian. Itu ngga mudah loh, teman.

:">