Seorang
teman pernah bertanya tentang riwayat pergaulanku. Riwayat pertemananku. Kadang
malas untuk menjawab karena teman ini memang memiliki nilai kuriositi yang
sangat tinggi. Baru sampai rumah aku terpikir untuk menjawab secara intelek.
Hahahaha. Semoga dia baca.
Dulu,
saat masih esde atau masih kecil.. kita selalu haal dengan kalimat, “nanti kalo
berteman, jangan suka pilih-pilih.” Dan biasanya kalimat tersebut dilontarkan
oleh guru atau orang tua kita. Tapi, setelah aku menelan asam garam pendidikan
selama hampir 15tahun lamanya ini, aku baru sangat menyadari bahwa kalimat
seperti itu memang benar. Sangat benar. Tetapi hanya berlaku sampai 12tahun
usia pendidikan. Itu artinya?... Ya.
Teman,
kita jangan pernah menutup mata. Dunia perkuliahan itu kejam. Ya, sambil-sambil
belajar buat menghadapi dunia yang sebenernya, sih. Mungkin, peribahasa yang
tepat untuk pertemanan di dunia perkuliahan adalah : bertemanlah dengan
pedagang minyak wangi, agar kalian tertular wanginya. Bukan, bukan berarti aku
mau dan sangat ahli memilih-milih teman.
Aku
diciptakan sebagai seorang wanita. Banyak sekali pikiran yang berkecamuk di
pikiranku di malam hari menjelang saat-saat tidur. Terkadang hal seperti ini
pun, aku tidak menyangka.. bakal menjadi
bahan pertanyaan yang dilontarkan kepadaku. Tetapi, ingat ya teman. Aku selalu
berusaha untuk tidak menyesal telah melalui semua ini. Aku anggap saja ujian.
Ujian bahwa tidak semua orang di atas panggung berlaku sebagai protagonist.
Bukankah pada setiap film atau sinetron selalu ada peran antagonisnya?
Aku
selalu berpikir, mungkin jika aku seorang penonton dan aku menonton sebah film.
Saat pemeran utamanya keluar, aku akan berpikir dia seorang yang baik. Aku akan
menjadi penggemarnya sepanjag film berlangsung. Sampai ternyata ada suatu
peristiwa dan muncullah hero yang asli. Yang sebenernya tak ingin kulihat dia
sebagai hero. Tapi apa? Aku harus menerima kan? Bukannya Sutradara telah
mengatur semuanya? Dan aku sebagai penonton harus menerima dan mengambil
sesuatu yang positifnya saja?
Teman,
usiaku sekarang menginjak 21. Dan insyaAllah aku sudah diberi kemampuan untuk
mengetahui mana yang baik dan mana yang benar. Beda, lho. Ah, teman. Semoga
saja kau tak akan pernah mempermasalahkan masalahku. Semoga cukup. Hanya aku
dan Dia yang tau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar