Rokok. keluarga saya cukup dekat dengan rokok. Duu, mbah dan om saya adalah perokok. Cukup aktif, udah ngalahin siswa yang ikutan organisasi di sekolah deh aktifnya..
Tapi sekarang mbah udah berhenti jadi perokok. Katanya udah ngga kuat. Om juga udah berhenti, badannya jadi sehat. Jadi segar. Nampaknya dia berhenti sejak anaknya beranjak 3 tahun.
Tapi sangat disayangkan, kakek adalah perokok. Cukup berat. Bagi kakek, rokok dan kopi terkadang sudah membuatnya kenyang. Terkadang ingin sekali rasanya menjahili beliau. Ingin aku sembunyikan sekotak rokoknya, emmm... atau minimal aku sembuyikan saja mencisnya. Hihihihihi
Akhir-akhir ini gencar sekali berita tentang anti rokok. Aku ingin sekali bergabung, tapi ngga mungkin.
Daridulu, sejak aku SD... aku ingin sekali menjadi Duta Anti Merokok nasional. Tapi mana mungkin hal itu bisa terjadi, sementara keluargaku saja masih ada yang menjadikan rokok sebagai belahan jiwanya.
Ironis memang, jika aku sedang gencar-gencarnya menahan orang lain untuk tidak merokok dan menjauhi teman-temanku disaat mereka sedang merokok, sementara kakek ku merokok.
Ingin sekali rasanya aku berbicara tentang keinginanku menjadi Duta Rokok pada adik kesayanganku. Satu impiku, jangan sampai dia mengenal rokok. Karena bagiku rokok bukan hanya pengisi waktu semata. Tapi rokok adalah bara untuk membakar uang. Jika merokok sebungkus bisa dihabiskan seminggu, berapa banyak uang jajanmu yang kau habiskan sebulan, 3 bulan bahkan setahun.
Adikku sedang beranjak remaja, teman. Aku sayang padanya. Aku cemas jika ia bergaul dengan teman-temannya yang lebih dulu mengenal rokok. Untuk itu, aku sangat galak padanya jika aku mencium aroma rokok dari bajunya.
Orang tuaku memang bukan tipe orang tua yang melarang keras. Mama, hanya ingin tau sebenernya dia merokok atau tidak..dan beliau hanya ingin tau dari adikku langsung. Padahal sebenarnya Mama sudah sejak lama mengetahui adikku terkadang merokok. Terbukti, jika dia sedang sakit batuk, batuknya beda. Apalagi aku yang sudah sejak lama mengetahui ciri-ciri orang merokok. Maklum, temanku yang merokok kan, bukan hanya seorag dua-orang saja. Terlebih, pernah ada temanku yang merokok ketika dia sedang menumpang buang air di toilet kosanku. Sejak saat itu, bisa dibilang aku sangat membenci yang namanya rokok. Bikin sesak saja, masbro.
Namun, industri rokok di Indonesia sangat maju. Bagimana tidak, harga sebungkus rokok disini sama dengan dua sampai iga bungkus rokok di Singapura. Dan lagi, industri rokok di negara ini menyumbang pendapatan. Jadi, terkadang justru yang demo anti rokok mendapatkan perlawanan keras dari perokok itu sendiri.
Sudah banyak juga upaya pemerintah menertibkan perokok aktif di negara ini. Maklum, banyaaaaaaaaaaaak sekali orang-orang yang jago dalam hal merokok. Bisa merokok sambil berdiri, bahkan berjalan sekalipun. Untuk itu, pernah ada proyek pembangunan ruang khusus untuk perokok. Tapi....., ya sudah rahasia umum lah ya hasil dari proyek itu apa. hehe. Sedih sih, tapi mau gimana lagi.
Naif jika saya berkata saya membenci perokok (meskipun sedara tadi saya mengucapkannya) hehehe. Mengapa? Ya sudah jelas, kakek saya perokok aktif. Adik saya yang beranjak remaja yang terkadang main ucing sumput jika merokok. Apakah saya membenci mereka juga? Tentu tidak. Namun, saya membenci kebiasaan mereka, yaitu merokok. Kenapa ngga diganti sama permen aja, sih? Sungguh pertanyaan yang sangat kekanak-kanakan.
Tapi jujur deh, cowok kece itu... bakal lebih kece lagi kalo ngga merokok. Artinya dia sudah berpikir panjang. Bukan untuk orang lain, bukan pula untuk keluarga maupun orang-orang yang berada di sekitarnya jika ia sedang merokok. Tapi untuk dirinya sendiri. Dia akan jauh lebih sehat, lebih bugar dan paru-parunya akan berfungsi secara optimal.
Pengetahuan saya tentang rokok, merokok maupun bahaya merokok memang masih sangat dangkal, namun setidaknya saya mencoba untuk berbagi dengan kalian semua.
Dan mungkin memang beum waktunya saya menjadi duta anti rokok nasional, iya.. selama masih ada keluarga (dekat) saya yang masih menjadi perokok aktif..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar